VISI DAN MISI DESA DADAPAYU

Visi dan Misi1. Visi

Visi adalah Suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan dengan melihat potensi dan kebutuhan desa. Penyusunan Visi Desa Dadapayu ini dilakukan dengan Pendekatan Partisipatif, melibatkan pihak – pihak yang berkepentingan di Desa Dadapayu seperti Pemerintah Desa, BPD, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Lembaga Masyarakat Desa dan Masyarakat Desa pada umumnya. Pertimbangan kondisi Eksternal di desa seperti satuan kerja wilayah pembangunan di Kecamatan. Maka berdasarkan pertimbangan diatas Visi Desa Dadapayu adalah :

” Seko nDeso neng Malioboro, bali neng nDeso nyejahterakke uripe warga

mulyo lan sentoso adil, makmur berdasar Pancasila ”

2. Misi

Selain penyusunan Visi juga telah ditetapkan Misi – misi yang memuat sesuatu pernyataan yang harus dilaksanakan oleh Desa agar tercapainya Visi Desa tersebut. Visi berada di atas Misi. Pernyataan Visi kemudian dijabarkan ke dalam Misi agar dapat di Operasionalkan / di Kerjakan. Sebagaimana penyusunan Visi, Misi pun dalam penyusunannya menggunakan pendekatan Partsipatif dan pertimbangan Potensi serta kebutuhan Desa Dadapayu, sebagaimana proses yang dilakukan maka Misi Desa Dadapayu adalah :

I. Melanjutkan Program yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah / Kepala Desa Dadapayu.

Arah Kebijakan Pembangunan yang akan dilaksanakan untuk mencapai Misi ini antara lain :

a. Melaksanakan Reformasi Birokrasi dengan mengembangkan Profesionalisme melalui Penataan Struktur yang proporsional serta penerapan Reward dan Punishment berbasis Kinerja ;

b. Meningkatkan dan mengembangkan kualitas pelayanan publik di Desa ;

c. Meningkatkan Kinerja Pengelolaan Keuangan Desa yang Transparan, Akuntabel dan Profesional.

II. Memberdayakan semua yang ada pada masyarakat.

Arah Kebijakan Pembangunan yang akan dilaksanakan untuk mencapai Misi ini antara lain :

a. Mengembangkan pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini ;

b. Meningkatkan pelayanan kesehatan terutama Pelayanan untuk Ibu dan Anak ;

c. Meningkatkan ketersediaan perumahan serta sarana dan prasarana dasar permukiman ;

d. Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas kesejahteraan sosial perseorangan, keluarga dan kelompok masyarakat dengan pendekatan Pemberdayaan Masyarakat.

PROFIL DESA DADAPAYU

Profil Desa Dadapayu

Desa Dadapayu merupakan wilayah desa yang berlokasi di sebelah tenggara dari Kota Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Wilayah Desa Dadapayu umumnya sudah mulai berbukit-bukit. Terletak sekitar 6 km dari Ibukota Kecamatan Semanu. Desa Dadapayu terdiri dari 20 Padukuhan, diantaranya:

1. Dukuh Ngalangombo
2. Dukuh Nongkosingit
3. Dukuh Karangtengah
4. Dukuh Dayakan Kulon
5. Dukuh Dayakan Tengah
6. Dukuh Dedel Kulon
7. Dukuh Dedel Wetan
8. Dukuh Sempon Wetan
9. Dukuh Pelem
10. Dukuh Pokdadap
11. Dukuh Kerdon
12. Dukuh Pomahan
13. Dukuh Sembuku
14. Dukuh Ploso
15. Dukuh Kepuh
16. Dukuh Sendang
17. Dukuh Kauman
18. Dukuh Sempon Kulon
19. Dukuh Nogosari
20. Dukuh Mojo

Desa ini mempunyai luas ladang 15.650.865 ha/m2 dan pemukiman seluas 3.400.000 ha/m2. Untuk jenis dan produksi bahan galian di desa Dadapayu ini berupa batu kapur, pasir, batu cadas, batu trass, batu putih. Untuk sumber daya air, Desa Dadapayu ini memiliki air sungai bawah tanah dan danau/telaga.

Desa Dadapayu memiliki penduduk sebanyak 8.318 orang, jumlah penduduk laki-laki sebanyak 4.069 orang dan perempuan 4.249 orang. Sedangkan jumlah Kepala Keluarga (KK) 2.497. Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Yakni 5.365 orang, sedangkan buruh tani 1.247 orang, Pegawai Negeri Sipil (PNS) 38 orang, pengrajin 190 orang, pedagang 94 orang, peternak 3 orang dan pekerja tidak tetap 912 orang.

POTENSI PERTANIAN DI SEMBUKU

Sebagian besar masyarakat Padukuhan Sembuku memiliki mata pencaharian sebagai petani. Sehingga terdapat banyak komoditas yang mereka tanam sesuai dengan kebutuhan mereka. Komoditas pertanian yang terdapat di desa situsari antara lain: komoditas padi, jagung, kubis, cabai, lengkuas, terung, tomat dan lain lain. Dimana yang sebagai komoditas utama adalah padi dan jagung.

Pola tanam pertanian di Padukuhan Sembuku sangat beragam ada yang pola tanam secara monokultur ada juga yang pola tanam secara polikultur. Pola tanam merupakan suatu urutan tanam pada sebidang lahan dalam satu tahun. Pola tanam terbagi dua yaitu pola tanam monokultur dan pola tanam polikultur. Pola tanam monokultur adalah pola tanam dengan menanam tanaman sejenis. Misalnya sawah ditanami padi saja, jagung saja, atau kedelai saja. Tujuan menanam secara monokultur adalah meningkatkan hasil pertanian. Sedangkan pola tanam polikultur ialah pola tanam dengan banyak jenis tanaman pada satu bidang lahan yang terusun dan terencana dengan menerapkan aspek lingkungan yang lebih baik, termasuk didalamnya masa pengolahan tanah. Di Desa Situsari sendiri untuk komoditas sayuran seperti kubis pada umumnya menggunakan pola tanam monokultur sedangkan untuk komoditas jagung menggunakan pola tanam polikultur dengan tanaman kacang tanah selain itu ada juga tanaman buncis dengan tanaman jagung, dimana tanaman jagung sebagai tanaman border (tanaman pelindung). Jenis tanaman yang menggunakan pola tanam monokultur lainnya adalah padi, lengkuas, cabai, tembakau dan lain lain. Dalam hal penyediaan bibit dan pupuk para petani Padukuhan Sembuku masih mengandalkan toko pertanian yang ada di Kecamatan Semanu yang umumnya sudah bersertifikat.

Untuk mendukung kegiatan dan pengetahuan para petani di Padukuhan Sembuku , para petani bergabung dalam kelompok tani.Peran Kelompok Tani seharusnya sebagai wadah para petani untuk berdikusi mengenai permasalahan pertanian mereka, dan juga sebagai wadah/Jembatan untuk meminta bantuan kepada pemerintahan setempat. Bantuan yang pernah di terima oleh kelompok-kelompok tani berupa pupuk , obat-obatan dan juga bibit. Menurut salah seorang petani sayuran, beliau mengatakan bahwa kelompok tani di Padukuhan Sembuku kurang aktif itu di sebabkan karena tidak adanya jadwal rutin untuk berkumpul atau berdiskusi antar petani. Kebanyakan petani yang terdapat di Padukuhan Sembuku ini di dominasi oleh petani penggarap dengan usia yang tidak produktif lagi, hal ini terjadi karena kebanyakan para pemuda desa banyak yang merantau ke kota dan juga ke luar pulau untuk bekerja.

Penanganan hama dan penyakit tanaman di Padukuhan Sembuku masih mengandalkan bahan bahan kimia sintetik, mereka belum mengaplikasikan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran para petani terhadap pengendalian hama dan penyakit yang baik dan ramah lingkungan. Peran pemerintah dalam hal ini sebernarnya sudah dilakukan melalui sosialisasi kepada para petani tetapi mereka masih sulit menerima hal tersebut, karena masih bertumpu pada budaya dan pengetahuan yang turun-temurun.

Hasil pertanian di desa situsari banyak di konsumsi sendiri artinya hasil pertanian mereka tidak secara komersil (tidak untuk dijual hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri), khususnya untuk tanaman padi hasil panennya tidak untuk dijual hanya untuk konsumsi pribadi saja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi untuk komoditas ubi atau singkong, hasil panennya selain untuk konsumsi pribadi juga untuk dijual kepada tengkulak yang sistemnya borongan.

POTENSI PETERNAKAN DI PADUKUHAN SEMBUKU

sampingan dari masyarakat Padukuhan Sembuku meliputi kegiatan peternakan, kegiatan pemanfaatan pekarangan, dan industri ruamh tangga.

Peternakan yang terdapat di Padukuhan Sembuku yaitu meliputi Peternakan Sapi, Kambing, Ayam.

 

1.Sapi

Di Padukuhan Sembuku terdapat peternakan sapi yang dikelola secara pribadi maupun kelompok. Terdapat dua model peternakan,yaitu penggemukan dan pengembangan indukan.

2.Kambing

Seperti halnya sapi, Peternakan Kambing juga dikelola secara pribadi dan kelompok. Model peternakannya yaitu penggemukan dan pengembangan indukan.

3.Ayam Kampung

Peternakan ini dikelola secara pribadi, dan secara umum setiap rumah tangga (KK) mempunyai ternak ini

Selain kegiatan peternakan diatas untuk meningkatkan sumber ekonomi keluarga juga melakukan pengelolaan pekarangan, antara lain penanaman pohon ketela singkong, toga (tanaman obat keluarga), dan warung hidup. Disamping itu masyarakat juga melakukan budidaya ikan baik secara kelompok maupun individu.