PELATIHAN KARATE DI PADUKUHAN SEMBUKU

Karate adalah seni beladiri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri ini pertama kali disebut “Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Karate ini merupakan salah satu program untuk diajarkan kepada anak-anak. Yang tujuannya anak-anak mengetahui olahraga beladiri dan tidak menggunakannya untuk kekerasan tetapi hanya untuk membela diri.

Tim KKN UNY 68 memperkenalkan bela diri karate ini kepada anak-anak di Dukuh Sembuku. Teknik dasar yang dikenalkan adalah kihon, kata, dan kumite. Kihon yaitu latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang dan manangkis. Kata yaitu latihan jurus atau bunga karate. Kumite yaitu latihan tanding atau sparring. Ketiga teknik ini diajarkan kepada pelatihan karate yang dilaksanakan di Dukuh Sembuku tiap hari Sabtu mulai tanggal 20 Juli 2013. Rata-rata peserta yang mengikuti pelatihan karate ini adalah sepuluh orang.

Pelatihan karate ini diharapkan dapat membantu anak-anak mengenali bela diri karate. Mereka juga diajarkan tentang penggunaan bela diri yang lebih untuk membela bukan untuk menyerang atau bertengkar. Ini diharapkan dapat meningkatkan minat anak-anak terhadap bela diri ini.

KETAHUI HASIL TES BUTA WARNA SEJAK DINI

Tes Buta Warna merupakan salah satu program individu KKN UNY 68 yang diadakan khusus bagi masyarakat Dusun Sembuku khususnya para pemuda dan pemudi yang akan melanjutkan jenjang pendidikannya. Program ini bertujuan untuk mengetahui ketajaman penglihatan seseorang dalam membedakan warna. Tes ini cukup bemanfaat karena seringkali menjadi persyaratan masuk perguruan tinggi beberapa program studi tertentu, SMA berbasis IPA, pembuatan surat-surat kendaraan dan pendaftaran pekerjaan pada beberapa perusahaan.

Program yang diadakan oleh mahasiswa biologi ini menggunakan metode Ishihara Test yang terdiri dari beberapa lembaran kertas didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna dan ukuran. Titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk lingkaran. Warna titik tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal.

buta warna merupakan kelainan atau cacat mata seseorang dalam melilhat warna karena faktor genetik. Buta warna dapat terjadi karena retina penangkap cahaya tidak dapat menangkap panjang gelombang warna tertentu sehingga ia sulit membaca atau membedakan warna. Buta warna lebih sering terjadi pada seseorang berjenis kelamin lelaki dibandingkan perempuan. Sebanyak 99% seorang buta warna tidak mampu membedakan antara warna hijau dan merah. Begitu pula pada tes buta warna yang dilaksanakan di dusun Sembuku, sejauh ini warga yang terdeteksi mengalami buta warna adalah peserta laki-laki. Kemudian untuk mengatasinya penderita dapat disarankan untuk menggunakan kacamata lensa warna, Jika tidak dapat melihat warna sama sekali (buta warna total), penderita dianjurkan menggunakan kacamata lensa gelap dan mempunyai pelindung cahaya pada sisinya.

Program yang diadakan oleh mahasiswa biologi ini menggunakan metode Ishihara Test yang terdiri dari beberapa lembaran kertas didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna dan ukuran. Titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk lingkaran. Warna titik tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal.

Program ini dilaksanakan dalam 3 event. Event pertama ditujukan untuk anak-anak hingga remaja usia SMA yang diteskan pada santri TPA dan remaja Masjid di dusun Sembuku. Event kedua dilaksanakan bersamaan dengan program tes kesehatan bagi masyarakat Sembuku usia dewasa, dan terakhir sedang direncanakan di sebuah sekolah di desa dadapayu semanu–GunungKidul.

PENYULUHAN DAN PENYUNTIKAN TERNAK MAMALIA DAN UNGGAS

Dusun Sembuku, Desa Dadapayu, Kecamatan Gunungkidul merupakan padukuhan yang mayoritas penduduknya adalah petani. Peternakan merupakan kegiatan masyarakat selain bertani di sawah atau tegalan. Peternakan dilakukan tidak secara massal atau besar-besaran tetapi sebagai bagian dari ternak rumah tangga. Hampir seluruh rumah tangga memiliki hewan peliharaan yang dijadikan ternak. Hewan tersebut merupakan investasi bagi warga dusun ini.

Kegiatan peternakan yang diterapkan di desa seringkali masih menggunakan sistem tradisional, begitu juga yang terjadi di Dusun Sembuku. Warga hanya memelihara ternak sebagai sebuah kebiasaan turun-temurun. Mengingat mayoritas penduduk memiliki ternak, sebenarnya bidang ini merupakan potensi wilayah yang sangat memadai. Dengan manajemen yang bagus dan lebih modern, peternakan di Dusun Sembuku dapat berjalan dengan lebih baik.

Selama ini ada beberapa hambatan yang dialami oleh masyarakat Dusun Sembuku dalam berternak. Di antara masalah yang dihadapi adalah kesehatan ternak yang kadang kurang diperhatikan karena pemahaman warga yang masih kurang. Masalah selanjutnya adalah kesuburan ternak yang kurang optimal. Selanjutnya adalah penanganan kesehatan ternak yang sering bermasalah terbukti dengan berbagai penyakit yang menjangkiti ternak. Banyak ternak yang sakit dan bahkan mati tanpa diketahui penyebabnya. Masyarakat pun belum begitu paham tentang langkah pertama yang harus diambil dalam kondisi darurat saat ternak sakit atau mati. Kondisi alam Gunung Kidul, terutama di area ini yang pasokan airnya terbatas juga membatasi warga dalam melakukan perawatan terhadap ternak.

Berbagai masalah tersebut tidak akan menjadi masalah seandainya warga masyarakat memiliki pemahaman mengenai berternak dengan cara yang lebih modern. Untuk itu, dengan membaca peluang yang dimiliki di daerah ini, tim KKN UNY 2013 Kelompok 68 yang memang ditempatkan di Dusun Sembuku berinisiatif untuk membuat program penyuluhan dan penyuntikan hewan ternak. Kegiatan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu: Penyuntikan Kesuburan dan Kesehatan Ternak Mamalia serta Penyuluhan Flu Burung.

Pada intinya kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang bagaimana caranya berternak yang baik. Hal ini berhasil dilakukan atas kerja sama dengan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kecamatan Semanu pada 6 Juli 2013 dan 24 Agustus 2013. Fokus utama pada kegiatan pertama adalah ternak mamalia. Pada hari itu, dilaksanakan penyuntikan kesuburan ternak mamalia yang terdiri dari sapi dan kambing. Kegiatan dilakukan oleh tiga pegawai Puskeswan dibantu oleh tim KKN yang mengurus masalah administrasi dan dokumentasi. Pada kegiatan pertama ini, warga mendapat kunjungan sehingga mereka bebas menanyakan perihal ternak, memeriksakan ternak mereka, meminta cek kebuntingan, suntik vitamin, dan pengobatan penyakit.

Pada pertemuan berikutnya, juga bekerja sama dengan Puskeswan, fokus pada masalah ternak unggas. Pada pertemuan ini, seluruh kader diundang untuk mendapatkan sosialisasi dan penanganan penyakit unggas, khususnya flu burung. Para kader ini diberikan pengarahan mengenai ciri-ciri penyakit unggas dan langkah yang harus diambil jika ada unggas yang mati. Selain itu, mereka diajari untuk menyuntik unggas dengan menggunakan simulasi unggas secara nyata. Para kader yang telah dilatih ini diharapkan akan menjadi pelopor dan pioner manajemen ternak yang baik, baik untuk mamalia maupun unggas. Dengan kegiatan ini, diharapkan potensi peternakan yang ada di dusun dapat berjalan lebih optimal.

PENYULUHAN DAN PENYUNTIKAN TERNAK MAMALIA DAN UNGGAS

Dusun Sembuku, Desa Dadapayu, Kecamatan Gunungkidul merupakan padukuhan yang mayoritas penduduknya adalah petani. Peternakan merupakan kegiatan masyarakat selain bertani di sawah atau tegalan. Peternakan dilakukan tidak secara massal atau besar-besaran tetapi sebagai bagian dari ternak rumah tangga. Hampir seluruh rumah tangga memiliki hewan peliharaan yang dijadikan ternak. Hewan tersebut merupakan investasi bagi warga dusun ini.

Kegiatan peternakan yang diterapkan di desa seringkali masih menggunakan sistem tradisional, begitu juga yang terjadi di Dusun Sembuku. Warga hanya memelihara ternak sebagai sebuah kebiasaan turun-temurun. Mengingat mayoritas penduduk memiliki ternak, sebenarnya bidang ini merupakan potensi wilayah yang sangat memadai. Dengan manajemen yang bagus dan lebih modern, peternakan di Dusun Sembuku dapat berjalan dengan lebih baik.

Selama ini ada beberapa hambatan yang dialami oleh masyarakat Dusun Sembuku dalam berternak. Di antara masalah yang dihadapi adalah kesehatan ternak yang kadang kurang diperhatikan karena pemahaman warga yang masih kurang. Masalah selanjutnya adalah kesuburan ternak yang kurang optimal. Selanjutnya adalah penanganan kesehatan ternak yang sering bermasalah terbukti dengan berbagai penyakit yang menjangkiti ternak. Banyak ternak yang sakit dan bahkan mati tanpa diketahui penyebabnya. Masyarakat pun belum begitu paham tentang langkah pertama yang harus diambil dalam kondisi darurat saat ternak sakit atau mati. Kondisi alam Gunung Kidul, terutama di area ini yang pasokan airnya terbatas juga membatasi warga dalam melakukan perawatan terhadap ternak.

Berbagai masalah tersebut tidak akan menjadi masalah seandainya warga masyarakat memiliki pemahaman mengenai berternak dengan cara yang lebih modern. Untuk itu, dengan membaca peluang yang dimiliki di daerah ini, tim KKN UNY 2013 Kelompok 68 yang memang ditempatkan di Dusun Sembuku berinisiatif untuk membuat program penyuluhan dan penyuntikan hewan ternak. Kegiatan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu: Penyuntikan Kesuburan dan Kesehatan Ternak Mamalia serta Penyuluhan Flu Burung.

Pada intinya kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang bagaimana caranya berternak yang baik. Hal ini berhasil dilakukan atas kerja sama dengan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kecamatan Semanu pada 6 Juli 2013 dan 24 Agustus 2013. Fokus utama pada kegiatan pertama adalah ternak mamalia. Pada hari itu, dilaksanakan penyuntikan kesuburan ternak mamalia yang terdiri dari sapi dan kambing. Kegiatan dilakukan oleh tiga pegawai Puskeswan dibantu oleh tim KKN yang mengurus masalah administrasi dan dokumentasi. Pada kegiatan pertama ini, warga mendapat kunjungan sehingga mereka bebas menanyakan perihal ternak, memeriksakan ternak mereka, meminta cek kebuntingan, suntik vitamin, dan pengobatan penyakit.

Pada pertemuan berikutnya, juga bekerja sama dengan Puskeswan, fokus pada masalah ternak unggas. Pada pertemuan ini, seluruh kader diundang untuk mendapatkan sosialisasi dan penanganan penyakit unggas, khususnya flu burung. Para kader ini diberikan pengarahan mengenai ciri-ciri penyakit unggas dan langkah yang harus diambil jika ada unggas yang mati. Selain itu, mereka diajari untuk menyuntik unggas dengan menggunakan simulasi unggas secara nyata. Para kader yang telah dilatih ini diharapkan akan menjadi pelopor dan pioner manajemen ternak yang baik, baik untuk mamalia maupun unggas. Dengan kegiatan ini, diharapkan potensi peternakan yang ada di dusun dapat berjalan lebih optimal.