POTENSI PERTANIAN DI SEMBUKU

Sebagian besar masyarakat Padukuhan Sembuku memiliki mata pencaharian sebagai petani. Sehingga terdapat banyak komoditas yang mereka tanam sesuai dengan kebutuhan mereka. Komoditas pertanian yang terdapat di desa situsari antara lain: komoditas padi, jagung, kubis, cabai, lengkuas, terung, tomat dan lain lain. Dimana yang sebagai komoditas utama adalah padi dan jagung.

Pola tanam pertanian di Padukuhan Sembuku sangat beragam ada yang pola tanam secara monokultur ada juga yang pola tanam secara polikultur. Pola tanam merupakan suatu urutan tanam pada sebidang lahan dalam satu tahun. Pola tanam terbagi dua yaitu pola tanam monokultur dan pola tanam polikultur. Pola tanam monokultur adalah pola tanam dengan menanam tanaman sejenis. Misalnya sawah ditanami padi saja, jagung saja, atau kedelai saja. Tujuan menanam secara monokultur adalah meningkatkan hasil pertanian. Sedangkan pola tanam polikultur ialah pola tanam dengan banyak jenis tanaman pada satu bidang lahan yang terusun dan terencana dengan menerapkan aspek lingkungan yang lebih baik, termasuk didalamnya masa pengolahan tanah. Di Desa Situsari sendiri untuk komoditas sayuran seperti kubis pada umumnya menggunakan pola tanam monokultur sedangkan untuk komoditas jagung menggunakan pola tanam polikultur dengan tanaman kacang tanah selain itu ada juga tanaman buncis dengan tanaman jagung, dimana tanaman jagung sebagai tanaman border (tanaman pelindung). Jenis tanaman yang menggunakan pola tanam monokultur lainnya adalah padi, lengkuas, cabai, tembakau dan lain lain. Dalam hal penyediaan bibit dan pupuk para petani Padukuhan Sembuku masih mengandalkan toko pertanian yang ada di Kecamatan Semanu yang umumnya sudah bersertifikat.

Untuk mendukung kegiatan dan pengetahuan para petani di Padukuhan Sembuku , para petani bergabung dalam kelompok tani.Peran Kelompok Tani seharusnya sebagai wadah para petani untuk berdikusi mengenai permasalahan pertanian mereka, dan juga sebagai wadah/Jembatan untuk meminta bantuan kepada pemerintahan setempat. Bantuan yang pernah di terima oleh kelompok-kelompok tani berupa pupuk , obat-obatan dan juga bibit. Menurut salah seorang petani sayuran, beliau mengatakan bahwa kelompok tani di Padukuhan Sembuku kurang aktif itu di sebabkan karena tidak adanya jadwal rutin untuk berkumpul atau berdiskusi antar petani. Kebanyakan petani yang terdapat di Padukuhan Sembuku ini di dominasi oleh petani penggarap dengan usia yang tidak produktif lagi, hal ini terjadi karena kebanyakan para pemuda desa banyak yang merantau ke kota dan juga ke luar pulau untuk bekerja.

Penanganan hama dan penyakit tanaman di Padukuhan Sembuku masih mengandalkan bahan bahan kimia sintetik, mereka belum mengaplikasikan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran para petani terhadap pengendalian hama dan penyakit yang baik dan ramah lingkungan. Peran pemerintah dalam hal ini sebernarnya sudah dilakukan melalui sosialisasi kepada para petani tetapi mereka masih sulit menerima hal tersebut, karena masih bertumpu pada budaya dan pengetahuan yang turun-temurun.

Hasil pertanian di desa situsari banyak di konsumsi sendiri artinya hasil pertanian mereka tidak secara komersil (tidak untuk dijual hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri), khususnya untuk tanaman padi hasil panennya tidak untuk dijual hanya untuk konsumsi pribadi saja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi untuk komoditas ubi atau singkong, hasil panennya selain untuk konsumsi pribadi juga untuk dijual kepada tengkulak yang sistemnya borongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *